Friday, December 26, 2008

Fadilat Kalamullah

1) BISMILLAH (Dengan nama Allah)
Barangsiapa membaca sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, nescaya terpelihara dari godaan dan gangguan syaitan, dari bencana manusia dan jin, daripada kecurian dan kebakaran, dan daripada kematian terkejut. Dan barangsiapa membaca sebanyak 50 kali dihadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada pembaca.


(2) SURAH AL-FATIHAH (Pembukaan)

Barangsiapa membacanya sebanyak 41 kali diantara sembahyang sunatnya, nescaya permintaannya di perkenankan, jika sakit lekas sembuh dan nescaya dikasihi oleh makhluk dan ditakuti oleh musuh. Barangsiapa membaca 20 kali sesudah tiap-tiap sembahyang fardhu, nescaya rezekinya dilapangkan oleh Tuhan dan bertambah baik keadaannya, serta bercahaya rohaninya.


(3) AYAT AL-KURSI (Kekuasaan Allah)
Barangsiapa membacanya sekali selepas setiap sembahyang fardhu, nescaya terpelihara dari tipudaya dan gangguan syaitan. Dengan membacanya, seorang yang miskin akan menjadi kaya, dan jika dibaca ketika hendak tidur nescaya akan terselamat dari kecurian, kebakaran dan kekaraman. Barangsiapa sentiasa membaca ayat Al-Kursi, nescaya Allah akan kurniakan kepada ahli rumahnya kebaikan yang tidak terhitung banyaknya. Barangsiapa berwudhuk lalu membaca sekali, nescaya Allah Akan meninggikan darjatnya setinggi 40 darjat dan Allah akan mendatangkan sehinggalah ke hari Qiamat. Dan tersebut dalam hadith yang lain: Barangsiapa membacanya ketika hendak tidur, nescaya Allah akan membuka pintu rahmat baginya hingga ke subuh, dan mengurniakan kota nur menurut bilangan rambut dibadannya. Jika sipembacanya meninggal dunia pada malam itu, ia dikira mati syahid. Hadith yang lain mengatakan: Barangsiapa membacanya selepas setiap sembahyang fardhu, nescaya akan terpelihara dari kekerasan Malakul-maut, dan Allah sendiri yang mencabut rohnya, dan dia akan
dibangkitkan bersama para Mujahid yang berjihad beserta para Anbiya hingga ia gugur mati Syahid.
Imam Jaafar Shadiq r.a. mengatakan: Barangsiapa membaca sekali, nescaya Allah akan menghindar darinya 1,000 kesukaran duniawi, yang terkecil sekali ialah kemiskinan dan kepapaan, dan 1,000 kesukaran ukhrawi, yang terkecil sekali ialah azab neraka.


(4) SURAH AL-BAQARAH (Sapi Betina)

Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surah ini Amanarrasulu) sebelum tidur, ia akan terselamat dari segala bala bencana dan mara bahaya.


(5) SURAH ALI-IMRAN (Keluarga Imran)
Barangsiapa membaca tiga ayat yang pertama dari surah ini, Nescaya ia akan mencapai kesihatan dari segala penyakit dan terselamat dari gangguan jin.


(6) SURAH AN-NISSA' (Perempuan)
Barangsiapa yang membaca ayat yang ke 75 dari surah ini, nescaya ia akan terselamat dari kejahatan para penjahat.


(7) SURAH AL-MAIDAH (Hidangan)
Barang siapa membaca ayat yang ke 7 dari surah ini, sebanyak yang mungkin selama 3 hari berturut -turut, insya Allah akan terselamat
dari was-was semasa wudhu dan solat. Barang siapa membaca ayat 89 hingga ayat 101 dari surah ini, keatas air lalu diberi minum kepada orang
yang bercakap dusta, nescaya ia tidak akan bercakap dusta lagi.

(8) SURAH AL-AN'AM (Binatang Ternak)
Barang siapa membacanya sebanyak 7 kali, nescaya akan terhindar dari segala bala bencana. Jika ayat 63 dan 64 dari surah ini,dibaca oleh penumpang kapal, ia akan terselamat dari karam dan tenggelam.


(9) SURAH AL-A'RAAF (Benteng Tinggi)

Barang kali membaca ayat 23 dari surah ini, selepas tiap-tiap solat fardhu, lalu beristighfar kepada Allah, nescaya akan terampun segala dosanya. Barang siapa membaca ayat 47 dari surah ini, ia akan terpelihara dari kekacauan para penzalim serta ia akan mendapat rahmat
Allah.


(10) SURAH AL- ANFAL (Rampasan)
Barang siapa membaca ayat 62 dan 63 dari surah ini, nescaya dia akan di cintai dan dihormati oleh sekalian manusia.


(11) SURAH AL-BARAAH (AT-TAUBAH) (Pemutus perhubungan)
Barangsiapa membacanya, nescaya akan terselamat dari kemunafiqan dan akan mencapai hakikat iman. Barang siapa membaca ayat 111 dari surah ini, dikedai atau ditempat-tempat perniagaan, nescaya akan maju perniagaannya itu.


(12) SURAH YUNUS (Yunus)
Barangsiapa membaca ayat 31dari surah ini, keatas Perempuan yang hamil, nescaya ia melahirkan anak dalam kandungannya itu dengan
selamat. Barangsiapa membaca ayat 64 dari surah ini, nescaya ia akan terhindar dari mimpi-mimpi yang buruk dan mengigau.


(13) SURAH AL-HUD (Hud)
Barang siapa membaca, nescaya ia akan mendapat kekuatan dan Kehebatan serta ketenangan dan ketenteraman jiwa. Barang siapa membaca ayat 56 dari surah ini, pada setiap
masa, nescaya ia akan terselamat dari gangguan manusia yang jahat dan binatang yang liar.
Barang siapa membaca ayat 112 dari surah ini, sebanyak 11 Kali selepas tiap-tiap solat, nescaya akan mencapai ketetapan hati.


(14) SURAH YUSUF (Yusuf)
Barang siapa membacanya, akan di murahkan rezekinya dan diberikan kemuliaan kepadanya.
Barang siapa membaca ayat 64 dari surah ini, ia akan terhindar dari kepahitan dan kesukaran hidup. Barang siapa membaca ayat 68 dari surah ini, nescaya Allah akan mengurniakan kesalehan kepada anak-anaknya.


(15) SURAH AR-RA'D (Petir)

Barang siapa membaca ayat 13 dari surah ini, ia akan terselamat dari petir. Dan barangsiapa membaca ayat 28 dari surah ini, nescaya penyakit jantungnya akan sembuh.


(16) SURAH IBRAHIM (Ibrahim)

Barang siapa membaca ayat-ayat 32 hingga 34 dari surah ini, nescaya anak-anaknya akan terhindar dari perbuatan-perbuatan syirik
dan bida'ah.


(17) SURAH AL-IIIJ'R (Batu Gunung)
Barang siapa membaca 3 ayat yang terakhir dari surah ini, ke atas perempuan yang selalu anak kandungannya gugur, nescaya anak kandungannya itu akan terselamat, dari gugurnya.


(19) SURAH BANI ISRAIL (anak-anak Israil)
Barang siapa membacanya ke atas air, lalu diberi minum kepada orang yang bercakap gagap insya Allah akan hilang gagapnya itu. Barang siapa membaca ayat 80 dari surah ini, ketika ia pulang dari perjalanan, nescaya dia akan dimuliakan dan dihormati oleh orang-orang yang setempat dengannya.


(20) SURAH AL-KAHF (Gua)
Barang siapa membacanya, akan terhindar dari kemiskinan dan kepapaan. Barang siapa membacanya pada malam Jumaat, nescaya dia akan mendapat rezeki yang murah.


(21) SURAH MARYAM (Maryam)
Barang siapa membacanya, nescaya akan mendapat kejayaan di dunia dan di akhirat.

(22) SURAH THAAHAA (Hai Manusia)
Barang siapa membacanya, nescaya Allah akan mengurniakan kepadanya ilmu pengetahuan dan akan tercapai segala maksudnya. Barang siapa membaca ayat-ayat 25 hingga 28 sebanyak 21
kali, tiap-tiap hari selepas solat subuh nescaya otaknya akan cerdas dan akalnya akan sempurna.


(23) SURAH AL ANBIYA (Nabi-Nabi)
Barang siapa membaca ayat 83 dari surah ini, nescaya dia akan mendapat sebesar-besar pangkat di sisi Allah s.w.t .


(24) SURAH AL-HAJ (Haji)
Barang siapa membacanya, Allah akan membinasakan musuh-musuhnya.


(25) SURAH AL-MU'MINUN (Orang-orang Mukmin)
Barang siapa membacanya ke atas air, lalu diberi minum kepada orang yang selalu minum minuman keras, nescaya dia tidak akan meminumnya lagi.
Barang siapa membaca ayat 28 dari surah ini, nescaya perahunya akan terselamat daripada karam dan rumahnya akan terselamat dari
kecurian dan serangan musuh.


(26) SURAH AN-NUUR (Cahaya)
Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari mimpi-mimpi yang buruk.
Barang siapa membaca ayat 35 dari surah ini,pada hari Jumaat sebelum solat Asar, nescaya dia akan disegani oleh orang ramai.


(27) SURAH AL-FURQAN (Pembaca)
Barang siapa membacanya sebanyak 3 kali ke atas air yang bersih, lalu air itu dipercikkan di dalam rumah, nescaya rumah itu akan terselamat dari gangguan binatang-binatang yang liar dan ular-ular yang bisa.


(28) SURAH ASY-SYU A'RA (Ahli-ahli Syair)
Barang siapa membaca ayat 130 dari surah ini, sebanyak 7 kali dengan senafas ke atas orang-orang yang digigit oleh binatang-binatang yang berbisa nescaya akan hilang bisa-bisa itu.


(29) SURAH AN-NAML (Semut)

Barang siapa membacanya nescaya nikmat-nikmat Allah akan kekal kepadanya.


(30) SURAH AL-QA-SHASH (Cerita)
Barang siapa membacanya ke atas pekerja-pekerjanya, nescaya Mereka tidak akan mencuri dan mengkhianat. Barang siapa membaca ayat-ayat 51 hingga 55 dari surah ini, Nescaya otaknya akan cergas, akalnya akan sempurna dan budi
pekertinya akan halus.


(31) SURAH AL-ANKABUT (Labah-labah)
Barang siapa membacanya, nescaya demamnya akan sembuh. Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari gelisah dan keluh kesah.


(32) SURAH AR-RUM (Rum)
Barang siapa membacanya, nescaya Allah akan membinasakan orang yang hendak menzaliminya.


(33) SURAH LUQMAN (Luqman)
Barang siapa membacanya, nescaya ia akan terhindar dari segala-gala penyakit terutama dari penyakit-penyakit perut. Barang siapa membaca ayat 31 dari surah ini, nescaya akan terselamat dari bencana banjir.


(34) SURAH AS-SAJ DAH (Sujud)
Barang siapa membaca ayat-ayat 7 hingga 9 dari surah ini, ke atas kanak-kanak yang baru lahir, nescaya ia akan terhindar dari segala-gala penyakit ruhani dan jasmani.


(35) SURAH AL-AHZAB (Golongan-golongan)
Barang siapa membaca ayat-ayat 45 hingga 48 dari surah ini, nescaya ia akan mendapat kemuliaan dan kehormatan sejati. Dan barang siapa membaca ayat-ayat 60 hingga 66 dari surah
ini, nescaya Allah akan membinasakan musuh-musuhnya.


(36) SURAH SABA' (Saba')
Dengan membacanya, terselamatlah ia dari segala-gala bala bencana, terutamanya dari rosaknya tanam-tanaman.

(37) SURAH FAATHIR (Pencipta)
Barang siapa membaca ayat-ayat 29 dan 30, nescaya Allah akan memberkati perniagaannya.


(38) SURAH YAASIIN (Hai Manusia)
Nabi kita Muhammad s.a.w bersabda : "Tiap-tiap sesuatu Mempunyai hati dan hati Al-Quran ialah surah Yaasiin." Yaasiin kerana Allah, nescaya akan terampun segala-gala dosanya kecuali dosa syirik.." Dalam satu hadith yang lain Baginda s.a.w bersabda: "Hendaklah kamu membaca surah Yaasiin ke atas pesakit-pesakitmu yang menghadapi sakaratul-maut, nescaya Allah s.w.t akan meringankan kekerasan sakaratul-maut itu."
Dalam satu hadith yang lain pula Baginda s.a.w bersabda : "Aku ingin benar, agar surah Yaasiin ini dihafaz oleh tiap-tiap umatku." Barang siapa membacanya sebanyak 41 kali, pasti akan tercapai segala hajat dan cita-citanya. Barang siapa membacanya sebanyak 21 kali pada malam Jumaat, Lalu berdoa istghfar untuk kedua ibu bapanya, nescaya dosa kedua ibu bapanya akan diampunkan oleh Allah SWT. Barang siapa membaca sekali ketika membuka kedai atau
perniagaan, nescaya akan maju perniagaannya itu.
Barang siapa membacanya sekali pada awal malam, andaikata ia mati pada malam itu, mesti ia mati syahid. Barang siapa membacanya sekali selepas tiap-tiap solat Jumaat, nescaya ia akan diselamatkan dari siksa kubur. Jika dibacanya oleh seorang askar, ketika ia hendak turun kemedan peperangan, Allah akan mengurniakan kepadanya keberanian dan kegagahan, serta naiklah ketakutan pada musuh-musuhnya.
Hikmat-hikmat dan khasiat-khasiat surah Yaasiin ini banyak benar didapati di dalam kitab-kitab hadith tetapi cukuplah setakat ini untuk diamal oleh anda sekalian.


(39) SURAH ASH-SHAAFFAAT (Yang Berbaris)

Barang siapa membacanya, insya Allah in akan terpelihara daripada gangguan jin.


(40) SURAH SHAAD (Shaad)

Dengan membaca ayat 42 dari surah ini, nescaya akan mendapat kebahagian sejati.

Wednesday, December 24, 2008

Menelusuri Perjalanan Ilmu Imam Shafie

Ketika kanak-kanak sebayanya sering menghabiskan masa dengan bermain, Imam Shafie pula memperuntukkan banyak masanya untuk menghafaz dan menuntut ilmu. Beliau yang mempunyai ketajaman akal dan kecerdikan yang luar biasa ini telah menghafaz Al-Quran ketika berumur 9 tahun. Setahun kemudian pula, beliau menghafal kitab ‘Muwatta’’ karangan Imam Malik. Melihat keluarbiasaan ini, pernah seorang bertanya kepada Imam Shafie, bagaimana cara beliau menuntut ilmu. Beliau menjawab: “Bagaikan seorang perempuan yang kehilangan anak. Sedangkan dia tidak mempunyai anak selain dari yang hilang itu.” Begitulah kecintaan anak kelahiran Mesir ini pada ilmu. Kepapaan dalam hidupnya bukanlah penghalang beliau untuk tidak menuntut ilmu. Ayahnya telah meninggal sebelum beliau dilahirkan. Beliau sering mengikut ibunya setiap kali ada majlis ilmu. Ibunya yang tegas dengan hukum hakam sering mendidik beliau perkara halal, haram dan subahat sekalipun dalam soal pengambilan sebarang makanan. Dengan berkat penjagaan ini, Imam Shafie dianugerahkan Allah daya ingatan yang luar biasa.

Imam Shafie berbukukan tulang kering

Disebabkan kehidupannya yang serba daif, Imam Shafie sering menggunakan tulang-tulang kering dan kertas-kertas bekas sebagai buku catatan. Bertahun-tahun lamanya sehingga bilik beliau penuh sesak dengan bahan-bahan bertulis itu hingga tiada ruang untuk melunjurkan kakinya. Akhirnya beliau pun mengambil keputusan untuk menghafal keseluruhan nota-nota itu. Berbulan-bulan lamanya Imam Shafie mengurung diri demi menghafal segala ilmu yang ditulis. Tulang-tulang itu kemudiannya dibuang setelah beliau menghafalnya.


Imam Shafie dan gurunya, Imam Malik

Setelah itu, buat pertama kalinya Imam Shafie mengembara ke Madinah untuk meluaskan ilmu. Setelah selesai solat di masjid Nabi itu, beliau terpandang ada seorang tua yang sangat hebat rupanya. Orang tua tersebut sedang bersyarah di hadapan anak-anak muda yang khusyuk pula mendengarnya. Orang itu ialah Imam Malik yang sedang mengajar murid-muridnya tentang hadis-hadis Rasulullah s.a.w. Dengan langkah yang tertib, Imam Shafie pun menuju ke tempat Imam Malik dan duduk bersama murid-murid. Imam Shafie pun mengambil sebatang lidi lalu membasahkannya dengan air liur. Beliau menulis segala apa yang diajar oleh guru itu di atas tapak tangannya. Tanpa di sedari, Imam Malik memerhati segala tingkah lakunya. Selesai pengajian, Imam Malik pun memanggil Imam Shafie untuk menegur beliau. Sangkanya Imam Shafie berbuat perkara kurang sopan ketika belajar. Jawab Imam Shafie, “Maaf tuan. Sebenarnya saya tidak bermain-main. Oleh kerana saya tidak ada kertas, segala yang tuan ajar saya tulis di atas tapak tangan saya untuk menghafalnya.” Apabila Imam Malik membelek-belek tangan Imam Shafie, beliau tidak menjumpai sebarang tulisan pun. “Tetapi kenapa tapak tangan engkau ni kosong sahaja.” “Namun demikian tuan, saya telah pun menghafal semua hadis-hadis yang tuan riwayatkan itu.” Setelah disuruh beliau membaca apa yang dihafalnya, Imam Malik mendapati tidak ada satu hadis yang tinggal daripada 20 hadis yang diajar hari itu. Perkara yang aneh ini belum pernah terjadi sebelumnya. Semenjak peristiwa itu, Imam Shafie menetap di sana sebagai tetamu Imam Malik yang begitu tertarik hati dengan kebijaksanaannya. Selama 18 bulan Imam Shafie berguru dengan Imam Malik. Hatinya yang terang memudahkan beliau memahami dan menghafal kitab ‘Muwatta’. Murid kesayangan Imam Malik ini sering diberi penghormatan bersyarah dan mengajar murid-murid yang lain. Beberapa lama kemudian, Imam Shafie meminta izin kepada Imam Malik untuk menuntut ilmu di Kufah. Di bandar Kufah ini, beliau bertemu Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Al-Hassan. Dengan pergaulan yang rapat itu, Imam Shafie dapat mencedok ilmu daripadanya. Kemudian beliau mengembara pula ke Palestin. Pengembaraan ini berlaku selama bertahun-tahun kerana ketika itu kenderaannya adalah unta. Rasa rindu untuk bertemu dengan Imam Malik mendorong Imam Shafie kembali ke Madinah. Di Madinah beliau diberi penghormatan oleh Imam Malik untuk memberi syarahan di masjid. Sehinggalah Imam Malik meninggal dunia. Semenjak itu nama Imam Shafie semakin terkenal. Kealiman, kecergasan dan akhlaknya semakin disukai ramai.
Masjid Al-Imam As-Shafie


Fitnah ke atas
Imam Shafie

Walaupun
Imam Shafie disanjung kerana akhlak terpujinya, musuh yang ingin namanya tercemar ada di mana-mana. Beliau difitnah kononnya memimpin kaum Syiah untuk menentang Khalifah Harun Al-Rasyid. Beliau kemudiannya ditangkap bersama-sama puak Syiah yang lain. Berkat kealiman dan kefasihannya menjawab segala soalan, Imam Syafie bebas daripada sebarang tuduhan. Malah Khalifah memberikan hadiah sebanyak 1000 dinar kepadanya. Dengan wang itu, Imam Shafie menyedekahkan kepada pegawai-pegawai istana dan orang miskin.

Kehebatan
Imam Shafie

Pernah berlaku satu kejadian yang membuktikan kehebatan Imam Shafie. Ketika itu beliau bertamu ke rumah Imam Ahmad bin Hambal dan bermalam di sana. Apabila Imam Ahmad bertanya adakah beliau selesa bermalam di rumah itu, Imam Shafie menjawab; “Belum pernah saya merasa gembira seperti malam tadi. Semalam saya dapat menyelesaikan 100 masalah sambil berbaring.” Imam Ahmad pun memberitahu anaknya; “Begitulah keadaan Imam Shafie. Apa yang dikerjakan Imam Shafie lebih berguna daripada apa yang kita lakukan kerana ia berbuat untuk kepentingan umum.”

Imam Shafie dan ibu tercinta

Seperkara yang menarik dalam kehidupan Imam Shafie ialah tentang ibunya. Setelah bertahun-tahun lamanya meninggalkan tanah air, terdetik rasa rindu untuk pulang ke Mekah. Beliau pun meninggalkan kota Madinah dengan membawa berbagai khazanah yang berupa kuda, pakaian, emas serta makanan. Harta benda ini semua adalah hadiah orang kepadanya. Hendak ditinggalkan bimbang ada pula yang berkecil hati. Ketika Imam Shafie tiba di halaman rumahnya, ibu serta beberapa orang kampung telah sedia menunggu. Demi melihat harta benda yang terlalu banyak itu, ibu beliau terus bermuram durja. Fahamlah beliau, ibunya kurang senang melihat harta benda itu. Segera Imam Shafie meminta pandangan ibunya. “Agihkanlah segala harta ini kepada orang-orang yang lapar. Berikanlah haiwan-haiwan kepada orang yang tidak berkenderaan, wangmu berikan kepada orang-orang miskin sehingga tiada sebutir dinar yang tinggal.” Maksud ibunya berbuat demikian, supaya Imam Shafie tidak bergantung hidup pada hartanya tetapi menyimpan bekalan yang kekal iaitu ilmu di dada.

Dengan kebolehan menghafal Al-Quran, hadis, faham pula dua bentuk aliran fikah, (aliran yang bersandarkan fikiran dan Ahlul hadis) dan sikapnya yang hidup zuhud, Imam Shafie menjadi rujukan umat di zamannya. Beliau telah menghasilkan satu bentuk ilmu fekah yang berada di tengah-tengah dua aliran tadi. Namun tetap beliau berkata, “Apa-apa yang kamu dapati daripada pendapatku yang bertentangan dengan al-Quran dan sunnah, maka tinggalkanlah!”.



MAKAM IMAM SHAFIE



Monday, December 08, 2008

Sejarah Qurban

Pada setiap 10 Zulhijjah, seluruh umat Islam menyambut kedatangan hari kebesaran Islam iaitu Hari Raya Aidil Adha atau Hari Raya Korban. Pada hari itu, umat Islam mengadakan solat sunat hari raya di samping menyembelih binatang ternakan seperti unta dan lembu untuk dikorbankan. Sebelum menyambut Aidiladha ini, adalah lebih elok jika kita mengetahui dan mengimbas kembali serba sedikit tentang sejarah ibadah korban. Mari sama-sama kita hayati sejarah korban yang saya peroleh ini.



Sejarah korban dibahagikan kepada tiga kategori, iaitu zaman Nabi Adam, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW.


Pada zaman Nabi Adam, korban dilaksanakan oleh anaknya, Qabil dan Habil. Menurut sejarah, kekayaan yang dimiliki Qabil mewakili kelompok golongan petani, sedangkan Habil mewakili kelompok penternak. Pada waktu itu, sudah mula ada perintah, sesiapa yang memiliki harta banyak, maka sebahagian hartanya hendaklah dikeluarkan untuk korban.

Sebagai petani, Qabil mengeluarkan korban daripada hasil pertaniannya, dan sebagai penternak, Habil mengorbankan haiwan peliharaannya untuk korban. Qabil mengeluarkan korban yang afdal (terbaik), iaitu hasil ternakan yang sihat, manakala Habil sebaliknya.

Hal itu diungkapkan dalam firman Allah yang bermaksud: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua-dua anak Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika mana kedua-duanya mempersembahkan ibadat korban, maka diterima daripada salah seorang dari mereka berdua (Habil), dan tidak diterima daripada yang lain (Qabil). Lalu ia berkata: Aku pasti membunuhnya (Habil).” (Surah al-Maidah, ayat 27)

Ayat di atas, membuktikan korban Habil diterima di sisi Allah atas dasar niat yang ikhlas dan taat dalam menjalankan perintah Allah. Korban Qabil tidak diterima Allah, kerana mengandungi unsur tidak ikhlas dan taat. Akhirnya, terjadilah peristiwa dan tragedi pembunuhan ke atas Habil oleh tindakan dendam kesumat Qabil. Sejarawan dan ahli tafsir menyatakan, itulah pembunuhan pertama dilakukan di kalangan umat manusia sejak bumi didiami insan.

Kisah korban kategori kedua pula adalah pada zaman Nabi Ibrahim. Baginda bermimpi mendapat perintah daripada Allah supaya menyembelih anaknya Ismail. Keikhlasan dan ketaatannya diberi imbalan oleh Allah, iaitu menyelamatkan Ismail dan menggantikannya dengan seekor kibasy. Peristiwa korban itu memberikan teladan, untuk meraih kemuliaan pastilah dilalui dengan pengorbanan. Berjuang untuk mencapai kemuliaan, ternyata mesti ditempuh dengan berkorban.

Orang yang menyatakan dirinya berjuang, tanpa ada kemahuan untuk berkorban, sesungguhnya bukanlah pejuang melainkan pengikut. Jika ingin maju dan mulia, pasti ada gerakan yang dipeloporinya untuk berjuang sekali gus berkorban, iaitu mendekatkan diri kepada Allah.

Korban kategori ketiga, ialah zaman Nabi Muhammad SAW. Firman Allah yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami mengurniakan kepadamu (wahai Muhammad) kebaikan yang banyak (di dunia dan akhirat). Oleh itu, maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu, dan sembelihlah korban (sebagai bersyukur). Sesungguhnya orang yang membenci engkau, dialah yang terputus (daripada mendapat perkara yang diingininya).” (Surah al-Kauthar, ayat 1-3)

Syariat dan ibadat korban, bukanlah menyembelih haiwan setahun sekali. Yang penting ialah keikhlasan dan ketaatan menunaikan perintah Allah. Allah menguji iman, seperti menguji keimanan Nabi Ibrahim dengan memerintahkan menyembelih Ismail. Allah tidak memerlukan darah dan dagingnya. Allah sekadar menguji keimanan Ibrahim dengan perintah dan ujian yang sangat berat itu.

Syariat dan ibadat korban terus berlaku hari ini hingga kiamat. Oleh itu, pada masa keperluan ekonomi semakin meningkat, akan wujud rasa berat untuk melaksanakan ibadat korban tetapi tugas itu akan menjadi ringan apabila kita ikhlas.

Bertepatan dengan keadaan saudara kita di beberapa negeri yang berhadapan tragedi banjir, ibadat korban yang dilakukan dan daging disedekahkan kepada mangsa sedang berhadapan dengan ujian dapat meringankan beban serta mengeratkan hubungan sesama manusia.

Begitu juga dengan program mengadakan ibadat korban di luar negara hasil sumbangan rakyat Malaysia yang prihatin dengan nasib masyarakat Islam di tempat lain yang mengharapkan kehadiran Aidiladha membawa kegembiraan kepada mereka. Meskipun haiwan yang disembelih, namun sesungguhnya Allah tidak melihat kepada daging dan darah haiwan dikorbankan itu. Yang dilihat Allah adalah niat ikhlas dan taat yang ada pada diri orang yang berkorban.

Allah berfirman yang bermaksud: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keredaan Allah, tetapi ketakwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya.” (Surah al-Hajj, ayat 37)

Sesetengah pihak berpendapat, kekayaan harta yang diperoleh adalah hasil jerih payahnya, kepandaian dan ilmunya. Mereka melupakan inayah dan pertolongan Allah.

Allahhu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilham....

Salam Aidiladha buat semua umat Islam di seluruh pelusuk dunia

Friday, December 05, 2008

Michael Jackson dan Islam

Assalamualaikum w.b.t,

Baru-baru ini kita digemparkan dengan pengislaman penyanyi pop terkenal, Michael Jackson dan telah menukar namanya sebagai Mikaeel'. Berikut merupakan artikel yang dipetik dari The Sun;

The singer, who was raised as a Jehovah's Witness, converted to Islam in a ceremony at a friend's house in Los Angeles.

He is said to have sat on the floor and worn a small hat while an imam officiated.

According to The Sun, the ceremony took place while Jackson, 50, was recording an album at the home of Steve Porcaro, a keyboard player who composed music on his Thriller album.

The former Jackson 5 star was counselled by David Wharnsby, a Canadian songwriter, and Phillip Bubal, a producer, who have both converted.

A source said Jackson had appeared a "bit down" and added: "They began talking to him about their beliefs, and how they thought they had become better people after they converted. Michael soon began warming to the idea.

"An imam was summoned from the mosque and Michael went through the shahada, which is the Muslim declaration of belief."

Last year his brother, Jermaine Friday, suggested Jackson would convert having taken an interest in Islam since Friday's conversion in 1989.

"When I came back from Mecca I got him a lot of books and he asked me lots of things about my religion and I told him that it's peaceful and beautiful," said Friday.

"He read everything and he was proud of me that I found something that would give me inner strength and peace.

"I think it is most probable that Michael will convert to Islam.

"He could do so much, just like I am trying to do. Michael and I and the word of God, we could do so much."


Apa yang dapat kita perkatakan setelah mengetahui hal ini? Pelbagai tanggapan telah wujud mengenai motif pengislamannya. Ada yang mengatakan artis-artis seperti ini adalah provokasi yang cuba diwujudkan oleh mereka atas sebab-sebab tertentu. Mungkin untuk menaikkan publisitinya setelah sudah lama menyepikan diri atas kesalahan yang dilakukan. Mengapa kita boleh berfikir demikian? Ya, kita mempunyai hak untuk berfikir sedemikian. Memang tiada siapa yang boleh menidakkan tanggapan kita. Kita boleh menuduh bermacam-macam terhadap mereka. Sejauh mana kesahihan berita ini, masih belum dapat dipastikan lagi. Wallahualam.


Tapi berfikirlah wahai saudara seislamku,

Samaada benar atau tidak, kita harus mengharapkan agar berita tersebut bukan sekadar cerita pelaris. Ramai saudara-saudara kita yang memandang remeh pengislaman mereka tidak kurang juga yang memperlekehkan saudara baru sepertinya. Cuba kita berfikir sebagai seorang saudara yang mengharapkan ketulusan hati mereka kepada agama suci kita ini. Orang memilih Islam kerana sebab yang pelbagai. Sebab-sebab itu adalah pencetus dan ia bukan urusan kita. Ia urusan Allah. Masakan kita ada kuasa untuk menilai isi hati manusia. Tugas kita adalah untuk berdoa agar hati Mikaeel akan tetap bersama agama Allah s.w.t ini dan seandainya berita ini masih belum dapat disahihkan lagi, berdoalah agar terbitnya hidayah dari sanubari Mikaeel yang akan membawanya ke pangkuan agama yang suci ini, agama yang dipeluk oleh abangnya dan juga Yusuf Islam, Agama Islam. Semoga kalimah syahadah yang dilafazkan akan terus lahir dari hatimu sehingga ke akhirnya.

Sebagai hamba yang punya tanggungjawab dan peranan, biarlah segala kesusahan dan bebanan hutang serta saman yang ditanggung oleh Michael Jackson itu menjadi urusan peribadinya. Isi hatinya tentang hasrat dan niat memeluk Islam, adalah urusan Allah. Kita sebagai saudara seagama, harus mengalu-alukan setiap insan yang sampai ke daerah Iman, mustahil tanpa petunjuk al-Rahman.

Selamat kembali ke daerah fitrah, Mikaeel.


Thursday, December 04, 2008

Jangan Mengeluh

Kita bertanya: Kenapa aku diuji?
Qur'an menjawab:
"Apakahg manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," (I am full of faith of Allah") sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." - Al-Ankabut: 2-3

Kita bertanya: Kenapa aku tak dapat apa yang aku idam-idamkan?
Qur'an menjawab:
"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." - Al-Baqarah: 216

Kita bertanya: Kenapa ujian seberat ini?
Qur'an menjawab:
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya ..." - Al-Baqarah: 286

Kita bertanya: Kenapa rasa frust?
Qur'an menjawab:
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang beriman." - Al-Imran: 139

Kita bertanya: Bagaimana harus aku menghadapinya?
Qur'an menjawab:
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk." - Al-Baqarah: 45

Kita bertanya: Apa yang aku dapat daripada semua ini?
Qur'an menjawab:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka ...?" - At-Taubah: 111

Kita bertanya: Kepada siapa aku berharap?
Qur'an menjawab:
"... Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal." - At-Taubah: 129

Kita berkata: Aku tak dapat tahan!!!
Qur'an menjawab:
" ... dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."

Monday, October 27, 2008

Cinta yang suci

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang
dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.Pagi itu,Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta
kasih-Nya.Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian,
Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti
Mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga
bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang,saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun
Dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di
sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup
pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah
membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah
anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan
kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malakul maut,"kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan
kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka Lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan."Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang
sanggup,melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar
kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi."Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku,jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku" - "Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan,sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya,dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku" Dan,
berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi...
Lihatlah.....Betapa cintanya Rasulullah kepada kita sehinggakan
Baginda meminta agar azab sakaratul maut itu ditimpakan sahaja ke atas
Baginda...bukan umat-umatnya. SUBHANALLAH!!.

Sunday, October 19, 2008

Perihal Neraka

Sifat Api Neraka

Dari sebuah hadis yang diceritakan, Allah s.w.t. telah menghantar malaikat Jibril bertemu malaikat Malik untuk mengmabil api darinya bagi kegunaan Adam untuk memasak. Malaikat Malik pun bertanya, "Wahai Jibril! Berapa banyakkah yang kamu mahu?" Sebesar buah tamar, jawab Jibril. Kata Malik, "Tahukah kamu, kalau aku berikan api neraka sebesar yang kamu mahu pasti akan hancur lebur 7 petal lanngit dan bumi kerana kepanasannya?" Kalau begitu, berikan aku separuh buah tamar, kata Jibril.



Jawab Malik, "Kalau separuh darinya, nescaya langit tidak dapat menurunkan hujan walaupun setitik ke bumi dan segala tanaman akan musnah." Malaikat Jibril lalu memohon pertolongan dari allah untuk mengetahui jumlah yang betul. Allah lalu memohon pertolongan dari Allah untuk mengetahui jumlah yang betul. Allah lalu berfirman, "Ambillah sebesar biji sawi." Pergilah Jibril mendapatkan api itu lalu dibasuh dahulu dengan 70 buah sungai di Syurga. Setelah itu ianya dibawa kepada Nabi Adam a.s. dan diletakkan di atas puncak gunung yang tinggi. Tiba-tiba cairlah gunung itu dan tinggallah hanya sedikit maka api itulah yan digunakan hingga sekarang.



Perihal Neraka

Rasulullah s.a.w. bertanya kepada malaikat Jibril tentang api Neraka. lalu Jibril pun menceritakan, "Ya Muhammad! Api Neraka itu berwarna hitam pekat, andaikata api itu terjatuh ke bumi walaupun sebesar lubang jarum, nescaya terbakarlah bumi ini. Baju neraka pula, kalau digantungkan antara langit dan bumi nescaya akan mati semua mahkluk di bumi ini kerana bau busuknya yang bersengatan. "Wahai Muhammad! Kalaulah semua malaikat menunjukkan rupanya yang sebenarnya dan turun ke bumi, nescaya akan pengsan semua penduduknya kerana rupanya yang amat mengerunkan.



Sekiranya satu pergelangan dari rantai Neraka iyu jatuh ke bumi, nescaya rantai itu akan menembusi hingga tujuh petala bumi. Mendengarkan semua itu Rasulullah s.a.w. berkata kepada Jibril, "Cukup Ya Jibril," Lalu Rasulullah menangis, Jibrilpun turut menangis. Lalu Rasulullah pun bertanya, "Wahai Jibril! Mengapa engkau menangis, sedangkan kedudukanmu di sisi Allah amatlah tinggi?"



Jibril menjawab, "Ya Muhammad, tidak ada yang dapat menjamin kedudukanku, sunnguhpun kesusukanku sangat mulia di sisi Allah s.w.t. Aku sangat bimbang kalau Allah hendak menguji aku atau mengubah kedudukanku sebagimana Harut dan Marut dan juga Iblis yang terkutuk." Walaupun kedudukan malaikat Jibril sangat dekat kepada Allah s.w.t., namun ia tetap menangis kerana takutkan Allah, tetapi malangnya manusia masih tetap engkarkan Tuhannya sekalipun jelas nyata tanda-tanda kekuasaan Allah dari al-Quran dan as-Sunnah.

Sunday, October 12, 2008

Tahukah Anda

Bilangan Malaikat

Malaikat terlebih dahulu diciptakan daripada manusia pertama, Nabi Adam a.s. Bilangan Malaikat tidak terkira banyaknya. Nisbahnya dengan jin dan manusia ialah malaikat: 90, jin: 9, dan manusia: 1. Ini bermakna, setiap sepuluh orang manusia, terdapat 900 ciptaan mahluk malaikat.



Malaikat Mendengar Khutbah

Pada setiap hari Jumaat, para malaikat akan mencatat kehadiran orang Islam yang datang untuk menunaikan sembahyang Jumaat. Mereka berdiri di setiap pintu masjid dan menuliskan nama orang yang mula-mula datang. Kemudian dicatatkan pahalanya. Kemudian dicatatkan lagi, siapa orang seterusnya. Apabila khatib telah duduk di mimbar, buku kehadiran pun ditutup. Para malaikat tadi akan masuk untuk sama-sama mendengar khutbah Jumaat.



Seksa Kubur

Suatu ketika, dua orang wanita Yahudi datang bertenu Sayidatina Aisyah. Mereka berceritakan tentang ahli kubur yang diseksa di dalam kubur masing-masing. Tetapi Siti Aisyah tidak mahu mempercayai cerita yang dibawa oleh dua wanita Yahudi itu. Apabila Rasulullah datang, Siti Aisyah pun menceritakna tentang kedatangan dua orang tetamu Yahudi itu. Beliau turut memberitahu apa yang telah disampaikan oleh wanita0wanita dalam cerita mereka. "Benar, memang ahli kubur itu diseksa, sehingga seksaan meeka itu terdengar oleh binatang ternakan," jawab Rasulullah s.a.w.



Pakaian Penghuni Syurga

Kain sutera adalah sejenis kain yang sangat lembut dan mahal harganya. Hanya orang perempuan yang dibenarkan oleh Islam memakai pakaian daripada kain sutera, manakala orang lelaki dilarang memakainya. Tetapi di syurga nanti, sesiapa pun akan diberi pakaian daripada kain sutera yang cantik-cantik. Menurut keterangan al-Quran, penghuni-penghuni syurga akan memakai pakaian yang diperbuat daripada sutera halus dan sutera tebal atau sutera kembang. Tentulah begitu selesa dipakai dan jauh lebih indah daripada sebarang pakaian yang ada di dunia.



Tujuh Lapisan Neraka

Neraka mempunyai tujuh lapisan. Setiap lapisan mempunyai satu pintu. Lapisan yang paling bawah adalah lapisan neraka yang paling berat dan dahsyat seksaannya. Tujuh lapisan neraka tersebut ialah Neraka Jahannam, Neraka Saqar, Neraka Lazha, Neraka Huthamah, Neraka Sa'ir, Neraka Jahim, dan Neraka Hawiyah. Semua lapisan itu diisi dengan pelbagai bentuk penyeksaan yang berat. Melihat wajah Malaikat Malik yang menggerunkan pun sudah cukup untuk membuatkan sesiapa sahaja berasa sangat takut, apatah lagi untuk diseksa di dalam mana-mana lapisan neraka.



Taman Syurga

Syurga dihias dengan taman-taman yang indah dan mengasyikkan. Di taman-taman itu terdapat sungai-sungai dan pohon buah-buahan. Di taman syurga juga terdapat mata air yang memancar deras airnya dan teduhan yang terbentang memanjang. Pemandangannya sungguh menyenangkan hati dan menggambarkan sebuah kerajaan yang besar. Udaranya pula sangat nyaman. Tidak panas dan tidak sejuk. Setiap orang yang berada di taman syurga boleh menikmati sungai yang airnya mengalir tenang. Mereka boleh memetik buah-buahan yang pohonnya rendang-rendang dan sentiasa berbuah tanpa mengikut musim.

Tuesday, October 07, 2008

Ainul Mardhiah

Bidadari merupakan salah satu anugerah Allah kepada seorang lelaki yang
memasuki syurga. Bagi seorang wanita yang solehah maka bidadari bagi
suaminya adalah dikalangan bidadari2 kurniaan Allah dan dia (isteri
solehah merupakan ketua akan segala bidadari-bidadari tsb). Berjihad pada agama Allah merupakan satu amalan yang menjadi kesukaan Allah swt dan ini
merupakan sunnah besar nabi SAW dan kalangan sahabat-sahabat. Setiap
manusia yang mati wlaupun berapa umurnya maka akan ditanya dimanakah masa
mudanya dihabiskan..


Kisah......:
Ainul Mardhiah merupakan seorang bidadari yang paling cantik dikalangan
bidadari-bidadari yang lain (nama puteri bongsu saya - bermaksud mata yang
di redhai). Suatu pagi (dalam bulan puasa) ketika nabi memberi targhib
(berita-berita semangat di kalangan sahabat untuk berjihad pada agama
Allah) katanya siapa-siapa yang keluar di jalan Allah tiba-tiba ia
shahid,maka dia akan dianugerahkan seorang bidadari yang paling cantik
dikalangan bidadari2 syurga. Mendengar berita itu seorang sahabat yang
usianya sangat muda teringin sangat nak tahu bagaimana cantiknya bidadari
tersebut.... tetapi dia malu nak bertanyakan kepada nabi kerana malu pada
sahabat-sahabat yang lain. Namun dia tetap beri nama sebagai salah sorang
yang akan keluar/pergi. Sebelum Zohor sunnah nabi akan tidur sebentar
(dipanggil khailulah, maka sahabat yang muda tadi juga turut bersama jemaah
tadi... tidur bersama-sama....

Dalam tidur tersebut dia bermimpi berada di satu tempat yang sungguh
indah,dia bertemu dengan seorang yang berpakaian yang bersih lagi cantik
dan muka yang berseri2 lalu ditanyanya dimanakah dia.. lalu lelaki itu
menjawab inilah syurga. Lalu dia menyatakan hasrat untuk berjumpa dengan
'Ainul Mardhiah... lalu ditunjuknya di suatu arah maka berjalan dia... di
suatu pepohon beliau mendapati ada seorang wanita yang tak pernah dia lihat
kecantikan begitu... tak pernah dilihat didunia ini... lalu diberi salam dan
dia bertanya andakah ainul mardhiah... wanita itu menjawab ehh tidakk...
saya khadamnya ainul mardhiah ada di dalam singgahsana sana.

Lalu dia berjalan dan memasuki satu mahligai yang cukup indah dan mendapati
ada seorang lagi wanita yang kecantikannya berganda-ganda dari yang pertama
tadi sedang mengelap permata-mata perhiasan di dalam mahligai.... lalu
diberi salam dan di tanya lagi adakah dia ainul mardiah lalu wanita itu
menjawab... eh tidakkk saya hanya khadamnya di dalam mahligai ini... ainul
mardiah ada di atas mahligai sana,..... lalu dinaikinya anak-anak tangga
mahligai permata itu kecantikkannya sungguh mengkagumkan... lalu dia sampai
ke satu dan mendapati seorang wanita yang berganda-ganda cantik dari yag pertama dan berganda-ganda cantiknya dari yang kedua.... dan tak pernah dia lihat di dunia.... lalu wanita itu berkata... akulah ainul mardhiah, aku diciptakan
untuk kamu dan kamu diciptakan untk aku.... bila lelaki itu mendekatinya
wanita itu menjawab... nantiii kamu belum syahid lagiiii......

Tersentak itu pemuda itu pun terjaga dari tidurnya lalu dia menceritakan
segala-galanya kepada satu sahabat lain, namun begitu dia memesan agar
jangan menceritakan cerita ini kepada nabi SAW... tapi sekiranya dia shahid
barulah ceritakan kepada nabi.

Petang itu pemuda itu bersama-sama dengan jemaah yang terdapat Nabi
didalamnya telah keluar berperang lalu ditakdirkan pemuda tadi telah shahid.

Petang tersebut ketika semua jemaah telah pulang ke masjid, di waktu hendak
berbuka puasa maka mereka telah menunggu makanan untuk berbuka (tunggu
makanan adalah satu sunnah nabi). Maka kawan sahabat yang shahid
tadi dan merapati nabi SAW dan menceritakan perihal sahabat
nabi yang syahid tadi... dalam menceritakan itu nabi menjawab
benar... benar... benar... dalam sepanjang cerita tersebut. Akhirnya nabi
SAW berkata memang benar cerita sahabat kamu tadi dan sekarang ini dia
sedang menunggu untuk berbuka puasa di syurga.... subhanallah...

Monday, September 01, 2008

PANDUAN IBADAT PUASA

PENDAHULUAN

Puasa ialah salah satu ibadat tertua dalam sejarah kehidupan manusia. Amalan ini telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu sebelum Muhammad s.a.w. diutuskan menjadi rasul. Dalam ajaran Yahudi dan Nasrani, puasa adalah satu amalan yang wajib dilaksanakan. Orang-orang arab pada zaman jahiliah juga telah menetapkan hari-hari tertentu seperti hari Asyura dan lain-lain untuk mereka berpuasa. Begitulah juga dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini mengamalkan puasa dengan cara dan tujuan yang tersendiri.

Dalam syariat Islam, puasa mempunyai tujuan dan hikmah yang sangat besar. Ia boleh meningkatkan taqwa orang-orang mukmin terhadap Allah S.W.T. Ibadat ini mula disyariatkan sebagai satu kefardhuan bagi umat Islam ialah pada akhir bulan Syaaban tahun kedua Hijrah dan menjadi salah satu daripada Rukun Islam. Firman Allah S.W.T. seperti yang termaktub dalam al-Quran, Surah al-Baqarah, ayat 183.

“Wahai orang-orang yang beriman.! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana di-wajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertaqwa.”

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda,

Islam itu dibina di atas lima perkara (rukun), iaitu mengucap syahadah bahawa sesungguhnya tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa sesungguhnya Nabi Muhammad ialah pesurah Allah, mendirikan sembahyang, memberi zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan haji ke Baitullah. (Hadis sahih, riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad)

DEFINASI PUASA

Puasa ialah perkataan bahasa Melayu yang diterjemahkan dari kata bahasa Arab “as-saum” atau “as-siyam” Dari segi bahasa ia bererti menahan diri dari sesuatu perkara. Pada pengertian syarak ia bermaksud menahan diri dari makan, minum dan lain-lain perkara yang membatalkannya mulai dari terbit fajar sadiq sehinggalah ke waktu matahari terbenam.

JENIS PUASA

Puasa terbahagi kepada empat jenis, iaitu puasa wajib, puasa sunat, puasa makruh dan puasa haram. Puasa wajib ialah puasa pada bulan Ramadhan, puasa nazar dan puasa kifarat iaitu kifarat (denda) kerana membunuh orang atau kerana bersetubuh pada siang hari di bulan Ramadhan.

Puasa sunat di antaranya ialah puasa enam hari pada bulan syawal, puasa hari Arafah iaitu pada sembilan haribulan Zulhijjah bagi orang yang tidak mengerjakan haji, puasa hari Asyurah iaitu pada sepulah haribulan Muharram, puasa pada bulan Rejab dan Shaaban, puasa pada hari Isnin dan Khamis dan lain-lain.

Puasa makruh ialah puasa yang dilakukan terus menerus sepanjang tahun kecuali pada hari-hari yang diharamkan dan puasa pada hari Jumaat sahaja. Puasa haram ialah puasa pada dua hari raya iaitu hari raya puasa dan hari raya haji dan puasa pada Tasyrik, iaitu hari kesebelas, duabelas dan tigabelas Zulhijjah dan juga pada hari syak iaitu hari yang tidak dapat dipastikan sama ada sudah masuk bulan Ramadhan atau belum.

RUKUN PUASA

Rukun puasa ada dua perkara, iaitu: Berniat puasa, Niat puasa hendaklah dilakukan pada tiap-tiap malam sebelum hari puasa. Walaupun begitu ia boleh juga dilakukan pada malam sebelum hari pertama puasa. Contoh lafaznya ialah “ aku berniat berpuasa esok hari dan hari-hari seterusnya sepanjang bulan Ramadhan, wajib atasku kerana Allah Taala”. Tetapi jika ia tertinggal puasa, ia hendaklah berniat semula selepas hari yang ditinggalkan itu. Bagaimanapun sebaik-baik niat puasa ialah dilakukan pada tiap-tiap malam semasa memulakan makan sahur.

Menahan diri daripada segala perkara yang membatalkan puasa mulai dari waktu terbit fajar (masuk waktu subuh) sehingga terbenam matahari (masuk waktu maghrib).

SYARAT WAJIB PUASA

1. Beragama Islam
2. Baligh atau sampai umur
3. Berakal sempurna
4. Berkuasa mengerjakannya

SYARAT SAH PUASA

1. Islam, Orang-orang bukan Islam tidak sah puasanya
2. Mumaiyiz, yakni mengerti perbezaan yang baik dengan yang buruk atau yang bersih dengan yang kotor
3. Suci daripada haid dan nifas bagi perempuan. Orang yang berhaid dan yang sedang berdarah nifas tidak sah puasa, tetapi wajib mengadakan puasa yang tertinggal itu
4. Puasa pada hari-hari yang dibenarkan sahaja. Tidak sah puasa pada dua hari raya iaitu hari raya puasa dan hari raya haji serta hari-hari tasyrik iaitu dari 11 hingga 13 haribulan Zulhijjah

PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA

1. Niat membatalkan puasa. Berniat untuk berbuka atau membatalkan puasa dengan sengaja dan bersungguh-sungguh boleh membatalkan puasa sekalipun ia tidak makan atau minum atau tidak melakukan sesuatu yang boleh membatalkan puasa.

2. Makan atau minum dengan sengaja. Orang yang makan, minum atau merokok dengan sedar dan sengaja batal puasanya. Sekiranya perbuatan itu dilakukan dengan tidak sengaja atau terlupa, tidak batal puasanya dengan syarat ia segera meluahkan makanan atau minuman itu apabila ia sedar bahawa ia sedang berpuasa.

3. Muntah dengan sengaja. Muntah dengan sengaja bererti muntah yang berlaku kerana perbuatan sendiri, bukan kerana keadaan seperti mabuk dan sebagainya. Jika termuntah tanpa sengaja tidaklah membatalkan puasa.

4. Bersetubuh. Orang yang melakukan persetubuhan dengan sengaja dalam masa puasa, selain terbatal puasanya, ia diwajibkan membayar kifarat (denda). Kifaratnya ialah memerdekakan seorang hamba. Jika ia tidak berupaya, ia hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut. Sekiranya ia tidak berupaya juga, ia hendaklah memberi makan kepada enam puluh orang miskin atas kadar sekali seorang dengan nilai yang sepatutnya. Seseorang yang serta merta menghentikan persetubuhannya sebaik sahaja terbit fajar (masuk waktu subuh), sah puasanya. Tetapi keadaan ini hendaklah dijauhi bagi mengelakan terbatalnya puasa dan terkena kifarat.

5. Keluar mani dengan sengaja. Mengeluarkan mani dengan sengaja seperti dengan tangan, menonton gambar lucah atau lain-lain yang boleh mengeluarkan mani adalah membatalkan puasa. Walaubagaimanapun, jika mani terkeluar disebabkan bermimpi atau berkhayal tidaklah membatalkan puasa.

6. Keluar darah haid atau nifas. Sekiranya seseorang perempuan datang haid atau bersalin dan keluar darah nifasnya ketika ia sedang berpuasa maka batallah puasanya.

7. Gila. Jika kegilaan itu datang pada siang hari, batallah puasanya.

8. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga badan. Memasukkan sesuatu benda secara sengaja ke dalam rongga badan seperti hidung, dubur dan telinga adalah membatalkan puasa.

ORANG YANG DIHARUSKAN BERBUKA PUASA

1 Orang Sakit. Seseorang yang tidak berupaya untuk meneruskan puasa kerana sakit atau sekiranya ia berpuasa juga akan menambahkan kesakitannya atau melambatkan sembuh penyakitnya. Ia dibolehkan berbuka dan wajib menggantikannya (qada)

2 Orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Orang yang sedang musafir atau dalam perjalanan jauh iaitu tidak kurang daripada dua marhalah kira-kira 80.640 kilometer atau 50.086 batu harus berbuka puasa. Puasa yang ditinggalkan itu wajib diqada.

3 Orang yang uzur. Orang-Orang tua yang sudah lemah, orang-orang yang lemah kerana penyakit yang tidak ada harapan untuk sembuh atau kerana semulajadinya lemah diharuskan berbuka atau tidak berpuasa langsung. Tiap-tiap hari yang ditinggalkan itu wajib dibayar fidyah, iaitu satu cupak atau ¾ liter makanan yang boleh mengenyangkan bagi sesebuah negeri berkenaan. Orang-orang ini tidak diwajibkan mengqadakan puasa yang ditinggalkan itu.

4 Orang hamil. Orang yang sedang hamil dan bimbang kalau ia berpuasa akan membahayakan dirinya, ia diharuskan berbuka, tetapi wajib diqadakan puasa yang ditinggalkan itu. Sekiranya ia bimbang akan membahayakan kandungannya seperti takut terjadi keguguran, ia harus berbuka tetapi wajib mengqadakannya serta membayar fidyah dengan secupak beras atau makanan yang mengenyangkan bagi setiap hari puasa yang ditinggalkan itu.

5 Ibu yang menyusukan anak. Orang yang menyusukan anak juga harus berbuka puasa dan mengqadakan puasa yang ditinggalkan itu kalau ia bimbang dengan berpuasa akan menyebabkan mudarat kepada dirinya. Kalau ia bimbang memberi mudarat kepada bayi yang disusuinya seperti kurang air susu atau menjejaskan kesihatan bayinya itu, maka ia diwajibkan mengqadakan puasa yang ditinggalkan itu serta membayar fidyah secupak makanan bagi setiap hari puasa yang ditinggalkannya.

6 Wanita yang haid atau nifas. Wanita yang didatangi haid atau nifas wajib berbuka puasa kerana puasanya batal. Ia wajib mengqadakan puasa yang ditinggalkan itu.

7 Orang yang pitam sepanjang hari. Orang yang pitam sepanjang hari harus berbuka puasa kerana puasanya batal. Ia wajib mengqadakan puasa yang ditinggalkan itu.

8 Orang gila. Orang gila juga harus berbuka puasa kerana puasanya batal. Ia juga wajib mengqadakan puasa yang tertinggal itu.

PERKARA YANG DISUNATKAN BAGI ORANG BERPUASA

1. Bersahur walaupun sedikit makanan atau minuman pada waktu akhir malam. Tujuannya ialah supaya menambahkan kekuatan berpuasa.

2. Menyegerakan berbuka setelah yakin matahari telah terbenam.

3. Berdoa sewaktu berbuka dan maksud doa : “Wahai Tuhanku! Kerana Engkau aku berpuasa dan dengan rezeki Engkau aku berbuka, dahaga hilang dan urat-urat telah menyedut makanan, mudah-mudahan Allah menetapkan ganjaran-Nya”

4. Berbuka dengan buah korma atau sesuatu yang manis atau dengan air.

5. Memberi makanan atau minuman kepada orang untuk berbuka puasa.

6. Memperbanyakkan amalan kebajikan seperti bersedekah dan sebagainya terhadap kaum kerabat yang lemah dan fakir miskin.

7. Memperbanyakkan membaca al-Quran dan berselawat ke atas Rasulullah s.a.w. sama ada pada waktu malam atau siang. Ibadat yang dilakukan dalam bulan Ramadhan akan diberi pahala yang berlipat ganda.

8. Menjauhkan diri daripada percakapan-percakapan yang tidak berguna dan buruk seperti mengumpat, mencela dan sebagainya. Memang telah dimaklumi bahawa perkara-perkara itu dilarang, tetapi perkara-perkara seperti itu jika dilakukan pada bulan yang mulia ini dosanya lebih besar.

9. Menyucikan diri (mandi junub) bagi orang yang berhadas besar sebelum naik fajar.

PERKARA YANG MAKRUH BAGI ORANG BERPUASA

1. Berbekam atau mengeluarkan darah penyakit melalui kulit kepala.
2. Memamah sesuatu yang tidak boleh hancur.
3. Menyedut air yang berlebihan ketika berwuduk.
4. Mengucup isteri.
5. Masih dalam keadaan berjunub semasa sudah masuk waktu subuh.
6. Memberus gigi atau berkumur-kumur selepas tergelincir matahari.

BEBERAPA MASALAH MENGENAI PUASA

Melewatkan Qada Puasa

Orang yang melewatkan qada puasanya sehingga sampai puasa berikutnya, sedang ia mampu untuk berbuat demikian, ia wajib mengqadakannya serta membayar fidyah, iaitu memberi makan fakir miskin dengan kadar satu hari secupak beras atau yang sama dengannya.

Junub Sampai Pagi Hari Puasa

Ada orang menyangka bahawa berkeadaan junub sampai terbit fajar hari puasa membatalkan puasa. Sebenarnya sangkaan tersebut tidak benar. Tetapi sebaik-baiknya (sunat) orang yang berjunub segera mandi sebelum terbit fajar, kerana dikhuatiri terjadi hal yang membatalkan puasa.

Menggantikan Puasa Orang Lain

Orang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan sebab uzur, kemudian ia meninggal dunia sebelum sempat mengqadanya, umpamanya uzur yang terus menerus sampai mati, ia tidak berdosa. Puasa yang ditinggalkan itu tidak wajib diqada dan tidak pula wajib fidyah. Sekiranya ia meninggal dunia sesudah ada kemungkinan untuk mengqada, tetapi tidak dilakukannya, keluarganya wajib mengqada puasa yang ditinggalkan itu. Hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah r.a. yang bermaksud..

“Rasulullah s.a.w. bersabda ; Sesiapa yang mati dan meninggalkan kewajipan puasanya, hendaklah walinya berpuasa untuk menggantikannya” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Makan Kerana Lupa Atau Dipaksa

Orang yang termakan pada siang hari puasa atau menyangka belum naik fajar atau menyangka matahari telah terbenam, puasanya tetap sah dengan syarat ia hendaklah terus berhenti dan meluahkannya sebaik sahaja ia sedar. Demikian juga orang yang dipaksa makan.

Mimpi Berjimak Dan Keluar Mani

Orang yang bermimpi berjimak semasa ia tidur di siang hari, tidak batal puasanya. Demikian juga jika air maninya keluar kerana mengkhayalkan persetubuhan, tidak batal juga puasanya.

Mandi Atau Menyelam Kerana Panas

Orang yang mandi atau menyelam kerana kesangatan panas, tidak merosakkan puasanya.

Merasa Makanan

Merasa makanan dengan lidah dan tidak ditelan tidak membatalkan puasa.

DENDA-DENDA BAGI ORANG YANG TIDAK PUASA

Terdapat empat jenis denda yang dikenakan kepada orang-orang yang tidak berpuasa Ramadhan.

1. Kifarat berserta qada
2. Fidyah berserta qada
3. Fidyah
4. Qada

Kifarat Berserta Qada

Denda ini dikenakan kepada orang lelaki yang membatalkan puasanya melalui persetubuhan. Persetubuhan yang dimaksudkan ialah dengan memasukkan kemaluannya melepasi had tertentu (hasyafah) ke dalam faraj (qubul atau dubur) sama ada manusia atau haiwan, yang masih hidup atau telah mati, lelaki atau perempuan sekalipun tidak keluar mani. Walaubagaimanapun, persetubuhan orang-orang yang berpuasa seperti berikut hanya diwajibkan qada tanpa kifarat, iaitu :

1 Orang yang bersetubuh dengan memasukkan kemaluan ke dalam faraj sekadar belum sampai had yang ditentukan.
2 Orang yang disetubuhi.
3 Orang yang bersetubuh dalam keadaan lupa atau tidak sedar.
4 Orang yang tidak tahu batalnya puasa dengan kelakuan tersebut.
5 Kanak-kanak yang belum baligh.
6 Orang-orang yang berpuasa tanpa niat.
7 Orang-orang dalam musafir.
8 Orang sakit, dengan harapan persetubuhan itu akan menyembuhkan sakitnya.
9 Orang yang yakin ketika persetubuhannya itu masih malam hari, atau yakin masuk waktu malam sedangkan sebenarnya masih siang.
10 Orang yang berpuasa selain dari puasa Ramadhan seperti puasa nazar, puasa kifarat dan puasa qada sekalipun qada bagi puasa Ramadhan.

Kifarat puasa ada tiga peringkat. Pertamanya ialah memerdekakan seorang hamba yang beragama Islam, sempurna sifat dan tubuh badannya. Jika tidak mampu, hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut. Sekiranya terputus walaupun sehari, hendaklah diulangi puasanya semula. Jika tidak berupaya juga, hendaklah memberi makan fakir miskin seramai 60 orang dengan kadar secupak seorang. Kifarat puasa wajib ditunaikan, tetapi kewajipan tersebut terhapus sekiranya seseorang itu gila atau mati.

Fidyah Berserta Qada

Denda ini dikenakan kepada tiga golongan, iaitu orang yang melengah-lengaahkan qada puasa wajib tanpa apa-apa keuzuran sehingga masuk bulan Ramadhan pada tahun berikutnya dan orang-orang perempuan hamil atau sedang menyusukan anak yang bimbang tentang keselamatan bayi atau anaknya sekiranya ia berpuasa. Kadar fidyah ialah secupak makanan bagi setiap hari puasa yang ditinggalkan. Di samping fidyah itu, puasa yang ditinggalkan itu wajib diqada.

Fidyah

Fidyah dikenakan kepada orang yang meninggalkan puasa-puasa wajib seperti puasa Ramadhan (seperti yang telah diterangkan) atau puasa nazar, puasa kifarat orang yang mati tanpa sebarang sakit atau uzur sebelum sempat mengqadakannya. Bagi orang yang telah mati itu menjadi kewajipan kepada keluarganya terutama walinya untuk membayar fidyah bagi simati sebanyak satu cupak makanan bagi tiap-tiap satu hari puasa yang ditinggalkan.

Qada

Qada ialah mengulangi berpuasa kerana menggantikan puasa Ramadhan yang ditinggalkan oleh sebab-sebab tertentu. Puasa qada boleh ditunaikan oleh orang lain dengan syarat orang yang berkenaan telah meninggal dunia dan tidak sempat mengqadakan puasanya sedang dia berkemungkinan mengqadakannya. Oleh yang demikian hendaklah diqadakan oleh keluarganya.

HIKMAH PUASA

1. Melahirkan kesyukuran terhadap Allah. Semua ibadat yang difardhukan mempunyai erti terima kasih kepada Allah s.w.t. kerana Allah s.w.t. telah melimpahkan berbagai nikmat yang tidak terbatas banyaknya kepada manusia. Sebagai tanda terima kasih itulah maka manusia, khususnya yang beragama Islam sewajibnya melaksanakan kefardhuan-kefardhuan yang telah ditentukan.

2. Puasa dapat membentuk seseorang itu menjadi penyabar, tabah menanggung kesusahan dan penderitaan. Di dalam kehidupan manusia didunia ini, kesusahan dan penderitaan adalah perkara lumrah yang lazimnya ditempuhi oleh setiap orang. Orang-orang yang memiliki sifat sabar akan mudah menguruskan soal-soal kehidupannya dengan matang dan teratur. Selain mendapat faedah untuk diri sendiri, orang-orang yang memiliki sifat sabar akan dikasihi Allah.

3. Puasa juga dapat melatih seseorang itu mengawal nafsu buas dan ammarah yang suka melakukan kejahatan. Melalui puasa seseorang itu dapat membentuk personalitinya menjadi seorang yang baik dan dihormati.

4. Puasa dapat menghindar seseorang itu daripada bersikap tamak, gelojoh dan mementingkan diri sendiri. Sifat-sifat tersebut amat dikeji dan membawa kepada kerugian dan keburukan.

5. Puasa dapat membentuk seseorang itu menjadi seorang yang amanah di dalam amal kehidupannya sehari-hari. Ini berlaku kerana seseorang yang berpuasa akan patuh kepada peraturan-peraturan puasa yang telah ditetapkan seperti menahan makan, minum dan lain-lain. Ia tidak akan melakukan semua itu sama ada di hadapan orang atau secara sembunyi. Latihan sebegini sudah tentu membentuknya menjadi seorang yang amanah.

6. Puasa dapat menanam rasa belas kesihan terhadap seseorang yang dalam kesusahan atau kemiskinan. Seseorang yang telah merasa sakit dan pedih kerana berlapar, akan dapat mengukur kesusahan dan penderitaan yang dialami oleh orang-orang fakir dan miskin. Oleh itu orang-orang fakir dan miskin, yang hidup melarat akan sentiasa ditolong bantu oleh orang yang berada. Kesedaran dan keadaan ini akan melahirkan keadilan dan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat.

7. Puasa memberi kesan yang baik kepada kesihatan tubuh badan. Ahli-ahli perubatan pada keseluruhannya telah mengakui bahawa puasa memberi kesan yang baik terhadap sesetengah penyakit. Para doktor juga berpendapat bahawa setiap manusia perlu sekali sekala berpuasa sekalipun ia tidak berpenyakit.

8. Puasa dapat mengujudkan perpaduan di kalangan umat. Apabila tibanya bulan Ramadhan, setiap umat Islam menyedari bahawa semua umat Islam di dunia ini akan berpuasa. Umat Islam diseluruh pelusuk dunia ini mengamalkan ibadat yang serupa sepertinya juga. Keadaan in sudah tentu mencetuskan dihati sanubarinya dengan rasa kesatuan dan kesamaan. Dengan ini terjalinlah rasa muhibah, kasih sayang, persaudaraan dan ingin tolong menolong antara satu dengan lain.

9. Sebagai kemuncaknya, puasa dapat membentuk seseorang itu menjadi muslim mukmin yang bertaqwa kepada Allah s.w.t. Kemuncak ini akan dapat dicapai apabila seseorang itu benar-benar tekun dan ikhlas menjalani ibadat puasa ini tanpa ada tujuan yang lain selain semata-mata kerana Allah s.w.t.

Wednesday, August 27, 2008

Ramadhan yang dinanti

Assalamualaikum w.b.t,

Alhamdulillah, kita sudah hampir untuk menyambut ketibaan Bulan Ramadhan pada 1 September ini,InsyaAllah. Bulan Ramadhan banyak memberi kita nilai-nilai murni yang menjurus kepada pembentukan sahsiah yang baik sekiranya dapat diamati oleh kita semua. Begitu banyak peristiwa yang berlaku dalam bulan mulia ini untuk kita hayati dan hargai bersama. Berikut dicatatkan sebahagian daripada peristiwa itu bagi tatapan dan renungan kita di bulan Ramadhan yang mulia ini.

  1. Di bulan Ramadhan al-Qur’an mula diturunkan dengan turunnya ayat yang pertama sehingga yang kelima surah al-`Alaq kepada Rasulullah Sallallahu `Alaihi Wasallam semasa Baginda di gua Hira’. Dengan itu bulan Ramadhan disebut juga bulan al-Qur’an, bulan untuk membaca al-Qur’an sebanyak yang boleh.

  2. Tahun kedua Hijriyah, terjadi peperangan Badar al-Kubra. Mengikut keterangan Ibn Hisyam, Rasulullah Sallallahu `Alaihi Wasallam bersama-sama pejuang Islam berangkat dari Madinah menuju Badar pada 8 Ramadhan dan pada 17 Ramadhan terjadilah peperangan Badar al-Kubra semasa Baginda di gua Hira’. Dengan itu bulan Ramadhan disebut juga bulan al-Qur’an sebanyak yang boleh. Peperangan ini dimenangi oleh Islam dan inilah kemenagan agung pertama pejuang-pejuang Islam menentang kemusyrikan dan kebatilan.

  3. Pada tahun kedua Hijriyah juga, zakat fitrah mula disyariatkan. Pada hakikatnya pensyariatan zakat ini adalah tanda kemenangan orang-orang yang berpuasa menentang hawa nafsu dan mengekang kecintaan terhadap harta.

  4. Di bulan ini tahun kelima Hijriyah, para pejuang Islam membuat persiapan untuk menghadapi musuh di Khandaq yang mana peperangan itu terjad pada bula Syawal pada tahun itu juga. Di dalam peperangan yang dinamakan juga sebagai peperangan al-Azhab ini pejuang Islam telah mendapat kemenangan gemilang.

  5. Pada 21 Hijriyah Ramadhan tahun kelapan Hijriyah, Allah Ta’ala memberi kemenangan besar kepada Rasulullah Sallallahu `Alaihi Wasallam dan umat Islam dengan pembukaan kota suci Makkah. Pada mulanya Baginda bersama-sama para sahabat meninggalkan Madinah menuju Makkah pada 10 Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Apabila sampai di al-Kadid, Baginda berbuka kerana bermusafir, kemudian pada 21 Ramadhan barulah Baginda memasuki kota Makkah.

  6. Pada bulan Ramadhan tahun yang sama Baginda mengutus beberapa kumpulan sahabat untuk merobohkan berhala-berhala yang terkenal pada masa itu. Khalid bin al-Walid diutus merobohkan berhala al-`Uza, Amr bin al-`Ash merobohkan berhala Suwa’ dan Sa’d bin Zaid al-Asyhali merobohkan berhala al-Manat.

  7. Pada tahun ke sembilan Hijriyah terjadi peristiwa peperangan Tabuk dan Baginda kembali pulang dari peperangan pada bulan itu juga.

  8. Di bulan Ramadhan tahun yang sama rombongan dari kota Taif tiba di Madinah. Rombongan ini memeluk agama Islam di hadapan Baginda dan mereka turut berpuasa bersama umat Islam di Madinah.

  9. Pada bulan dan tahun yang sama rombongan Raja Himyar tiba di Madinah untuk mengisytiharkan Islam mereka. Mereka menjadi tetamu Baginda dan Baginda menuliskan beberapa panduan tentang hak dan kewajiban mereka. Catatan ini merupakan salah satu dokumen penting di dalam sejarah perundangan Islam.

  10. Pada tahun ke sepuluh ke Hijriyah Baginda mengutus rombongan yang diketuai `Ali bin Abu Talib ke negeri Yaman dengan membawa bersamanya surat Baginda untuk penduduk Yaman, khasnya suku Hamdan yang kesemua mereka memeluk Islam dalam satu hari.

  11. Pada tahun 53 Hijriyah pejuang Arab Islam dapat menakluki pulau Rudes.

  12. Pada tahun 91 Hijriyah pejuang Islam mula mendarat di Selatan Andalus.

  13. Pada tahun 92 Hijriyah ketua pejuang Islam Tariq bin Ziyad dapat mengalahkan Raja Rodrik di dalam satu peperangan sengit.

  14. Pada tahun 129 Hijriyah mula muncul di Khurasan pendukung pengasas Kerajaan Bani Abbas dilantik sebagai khalifah al-`Abbasiyyah yang pertama.

  15. Pada bulan Ramadhan tahun 132 Hijriyah berakhir sudah pemerintahan Bani Umaiyyah dan pada masa yang sama Abu al `Abbas dilantik sebagai khalifah al-`Abbasiyyah yang pertama.

  16. Pada bulan Ramadhan tahun 361 Hijriyah al-Jami’ah al-Azhar selesai dibina untuk kegunaan tempat beribacar dan mengajarkan ilmu-ilmu Arab dan syara’.

  17. Pada tahun 584 Hijriyah Salahuddin al-Ayyubi dapat mengalahkan kaum Salib dan membebaskan semula sebahagian besar negeri yang pernah dikuasai oleh pehak kaum Salib (Kristian). Apabila bulan Ramadhan tiba, pada mulanya Salahuddin al-Ayyubi bermaksud memberi rehat kepada para pejuangnya, akan tetapi kerana takut ajal tiba terlebih dahulu, maka beliau tidak menyempurnakan maksudnya itu, lalu mengarahkan para pejuangnya meneruskan peperangan melawan kaum Salib dan akhirnya mereka mencapai banyak kemenangan sehingga pertengahan bulan ini.

  18. Pada tahun 658 Hijriyah Kerajaan mamalik dapat mengalahkan dan membencung kemaraan tentera Tartar di ‘Ain Jalud. Tentera ini bermaksud menguasai selurh negeri Islam, akan memasuki Mesir dan negeri-negeri lain melalui Mesir.

Bulan Ramadhan yang mulia mengandungi banyak peristiwa dan ia memberi ruang dan peluang yang terbaik kepada mereka yang insaf. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Monday, August 25, 2008

Disebalik 21 OGOS


21 Ogos setiap tahun merupakan Hari Al-Quds Sedunia yang disambut sebagai tanda memperingati tragedi pembakaran masjid Al-Aqsa yang dibakar oleh seorang Zionis warga Switzerland, Dennis Michael Rohan yang kononnya dikatakan gila. Tragedi tersebut merupakan catatan sejarah yang paling menyedihkan dalam sejarah umat Islam terhadap masjid Al-Aqsa yang disucikan.Begitulah nasib tanah suci Umat Islam yang ketiga setelah dihuni oleh “Israel” Sang Perampas.



Sebagai umat Islam, isu Palestin merupakan isu ‘Akidah yang selayaknya dipertanggungjawabkan bagi sekalian umat Islam kerana kedudukan Masjid al-Aqsa sebagai tanah suci ketiga dalam Islam, Kiblat pertama umat Islam, Tanah Anbiya’ dan pusat pemerintahan dunia Islam seperti yang dirakamkam dalam Hadis Rasulullah.



Hari ini Palestin berada dalam tangan musuh Islam, Zionis “Israel” yang telah merampasnya dari tangan umat Islam. Akibatnya, umat Palestin telah dihalau keluar, dizalimi, ditindas, dikambinghitamkan, dipenjarakan dan dibunuh. Nasib yang melanda umat Islam Palestin memerlukan pembelaan dari seluruh umat Islam.



Sebagai usaha pembelaan dan kepedulian kita, maka Hari Memperingati Al-Quds atau Remembrance of Al-Quds (ROQ) merupakan sebuah gagasan utama yang akan menjadi simbol solidariti umat Islam di Malaysia terhadap umat Palestin. Pelbagai kegiatan boleh dijalankan untuk mewar-warkan tentang isu Palestin dan kedudukan Palestin dalam hati umat Islam. Kita berharap progam ini akan menggerakkan masyarakat yang sedar untuk menghulurkan sumbangan dan mempersiapkan diri mereka dengan segala pertahanan dan kecemerlangan sebagai umat yang terbaik.



Semoga Allah memberikan kekuatan kepada meeka yang berkorban demi Islam dan berusaha keras mempertahankan Islam, tanahairnya, kesucian dan maruahnya dan umatnya. Amin.

Sumber:http://www.freewebs.com/roq06/

Thursday, June 19, 2008

KES SITI FATIMAH : BUKTI KEMENANGAN SEKULAR-mykhilafah.com

Dipetik dari mykhilafah.com

Pada hari khamis lepas telah terpahat dalam lembaran sejarah kehakiman Negara Malaysia, apabila Mahkamah Tinggi Syariah Pulau Pinang meluluskan permohonan murtad oleh seorang wanita yang bernama Siti Fatimah, 39 yang nama asalnya ialah Tan Ean Huang. Penghakiman itu diberikan oleh Hakim Syarie Othman Ibrahim manakala Siti Fatimah diwakili oleh peguam syarie Ustaz Ahmad Jailani. Kes ini ternyata mengundang reaksi dari banyak pihak kerana ia menjadi ‘landmark case’ yang membenarkan permohonan murtad di Malaysia. Menteri Di Jabatan Perdana Menteri yang bertanggungjawab atas hal ehwal Islam, Datuk Ahmad Zahid Hamidi berkata, rakyat dari pelbagai kaum seharusnya menerima keputusan ini. Keputusan mahkamah itu dibuat selepas majlis penasihat membuat pertimbangan sewajarnya dan seharusnya diterima oleh orang ramai [UM 09/05/08]. Di antara orang yang gembira dengan keputusan mahkamah ini adalah presiden MCA, Datuk Seri Ong Ka Ting yang menyatakan, “Ini adalah langkah penting untuk rakyat Malaysia yang progresif, berbilang kaum dan berbilang budaya. MCA selalu menekankan bahawa agama adalah satu hal peribadi dan ia adalah hak setiap rakyat Malaysia untuk memilih agama masing-masing sebagaimana termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan”. Tegasnya lagi, “adalah menjadi hak Siti Fatimah untuk memeluk Islam dan begitulah sebaliknya, menjadi haknya juga untuk keluar dari Islam.” Presiden PKR, Datin Seri Dr Wan Azizah turut mengeluarkan kenyataan yang hampir sama, “adalah menjadi hak Siti Fatimah untuk kembali kepada agama asalnya (tetapi) Majlis sepatutnya mengambil berat kebajikan mua’laf seperti Siti Fatimah” [sila rujuk http://thestar.com.my untuk membaca komen penuh yang diberikan].

Seperti biasa, kumpulan liberal yang sering ‘dinaikkan’ dalam isu murtad ini adalah Sisters In Islam. Pengurus programnya, Norhayati Kaprawi berkata, “Pendirian kami adalah – apabila seseorang itu tidak mahu berada di dalam suatu agama, tidak ada guna bagi pihak berkuasa menyekatnya dari keluar. Kes ‘landmark’ ini adalah selari dengan ajaran Islam dan juga Perlembagaan Persekutuan yang menjamin kebebasan beragama” [http://thestar.com.my]. Turut sama mengulas isu ini adalah Mufti Perlis Mohd Asri yang menyifatkan keputusan ini adalah ‘tepat’ dan komentari ini terkandung dalam laman webnya “..Saya puji tindakan peguam Ahmad Jailani Abd Ghani dan Hakim Syarie Perlis, Othman Ibrahim kerana berani mengendalikan kes sebegini yang pertama kali seumpamanya di Malaysia…Akidah Fatimah atau nama sebenarnya Tan Ean Huang, 39, yang tidak mengamalkan ajaran Islam sejak awal lagi sudah murtad, walaupun sebelum mendapat pengiktirafan mahkamah,” [BH 10/05/08]. Amat menyedihkan apabila orang-orang Islam yang sepatutnya menjaga agama Islam dan sepatutnya berjuang untuk menegakkan agama Allah ini, sebaliknya menyokong keputusan mahkamah syariah yang diputuskan bukan berdasarkan hukum Allah, malah bertentangan langsung dengan Al-Quran dan Al-Sunnah. Walau apa alasan yang diberikan oleh hakim, peguam, mufti, pemimpin Islam mahupun pemimpin bukan Islam, namun yang pasti, ‘kebenaran’ dan ketepatan itu hanyalah apabila kita berhukum dengan hukum Allah, bukan mengikut akal masing-masing. Ukuran ‘kebenaran’ itu adalah apabila ia ‘bertepatan dengan Al-Quran dan Sunah’, bukannya kerana bertepatan dengan logik akal, bukannya kerana bertepatan dengan Perlembagaan dan bukannya kerana bertepatan dengan Enakmen Aturcara Mal 2004 Pulau Pinang.

Sekilas Fakta & Keputusan Kes Siti Fatimah

Sebelum kita melihat hukum syarak ke atas apa yang berlaku, kita perlu memahami realiti kes Siti Fatimah ini terlebih dahulu dan hujah-hujah yang dibawa oleh semua pihak. Pada 10 Julai 2006, Siti Fatimah telah memfailkan permohonannya terhadap MAIPP selaku defendan, untuk keluar dari Islam. Menurut pernyataan tuntutannya, beliau tidak pernah yakin dengan ajaran Islam dan hanya memeluk agama itu sekadar untuk mencukupkan syarat bagi membolehkannya berkahwin dengan seorang lelaki warga Iran bernama Ferdoun Ashanian pada 16 September 2004. Siti Fatimah, yang pernah bekerja sebagai tukang masak, memfailkan permohonan itu selepas ditinggalkan suaminya yang menghilangkan diri tanpa sebarang sebab. Dalam tuntutannya juga, beliau menyatakan bahawa sepanjang memeluk agama Islam, dia masih lagi menyembah berhala Tok Pek Kong, berhala Kuang Tin Ne dan berhala Ti Kong (Dewa Langit) mengikut ajaran agama asalnya, Buddha dan memakan daging khinzir. Berdasarkan sejumlah fakta yang dikemukakan, dengan hujah peguam dan saksi yang telah meyakinkan beliau, maka hakim Othman Ibrahim berpuas hati yang plaintif tidak mengamalkan ajaran Islam sejak memeluk agama itu pada 25 Julai 1998. Hakim lalu membenarkan permohonan Siti Fatimah Tan Abdullah untuk mendapatkan pengisytiharan keluar daripada agama Islam (murtad). Beliau juga turut memerintahkan Majlis Agama Islam Pulau Pinang (MAIPP) membatalkan sijil memeluk Islam wanita itu. Untuk menukar status dalam kad pengenalan, Siti Fatimah diminta menguruskannya dengan Jabatan Pendaftaran Negara kerana itu di luar bidang kuasa mahkamah syariah. Hakim Othman Ibrahim dalam pada itu melahirkan rasa kesal dan mengkritik MAIPP kerana lalai dengan tanggungjawab mereka dalam menjaga kebajikan mualaf.

Berdasarkan apa yang dihujahkan oleh peguam Ahmad Jailani, kita dapat simpulkan bahawa terdapat sekurang-kurangnya tiga persoalan/perbahasan penting yang berlaku dalam kes ini. Pertama: permohonan ini bukannya untuk ‘keluar dari Islam’ tetapi untuk ‘menentukan status agama’ Siti Fatimah. Kedua: Siti Fatimah bukan seorang Muslim walaupun telah bersyahadah, kerana dia hanya bersyahadah (untuk masuk Islam) secara ‘formaliti’ untuk membolehkan dia berkahwin dengan orang Islam. Ketiga: Siti Fatimah tidak dikatakan Islam kerana dia sentiasa mempraktikkan ajaran agama asalnya (Buddha) sama ada sebelum atau selepas syahadah (pengisytiharan masuk Islam).

Menjawab Beberapa Persoalan Dan Kekeliruan

Persoalan Pertama: Berdasarkan satu wawancara yang disiarkan di Internet [http://youtube.com/watch?v=echaEOz0OrU], Ahmad Jailani mengakui yang memohon murtad adalah haram di dalam Islam dan beliau tidak akan bersetuju dengan perkara ini. Beliau juga yakin bahawa hukuman bagi si murtad adalah bunuh dan beliau tidak akan menyokong jika permohonan adalah untuk murtad. Tetapi di dalam kes ini, ia adalah permohonan ‘untuk menentukan status agama’, sebab itulah beliau sanggup mengambilnya. Sekali dengar, ada logiknya dengan hujah yang dikemukakan, namun umum mengetahui bahawa peguam memang pandai bermain kata-kata. Kita akan dapat tahu apakah permohonan sebenar di dalam kes ini jika kita dapat melihat Pernyataan Tuntutan (Statement of Claim) yang difailkan oleh Ahmad Jailani, namun berdasarkan laporan media, memang salah satu dari permohonan itu adalah untuk mengisytiharkan bahawa si plaintif (Siti Fatimah) telah keluar dari Islam (murtad). Jika benar sekalipun sebagaimana didakwa Jailani, persoalannya adalah, apakah bezanya antara “permohonan mengisytiharkan diri sebagai bukan Islam” dengan “permohonan untuk keluar dari Islam”? Bukankah itu hanya ‘mainan’ kata-kata/istilah perundangan yang sememangnya bersifat terpusing-pusing? Pokoknya, permohonan itu dibuat oleh Ahmad Jailani SETELAH terdapat bukti bahawa Siti Fatimah telah memeluk Islam dan kini memohon untuk keluar dari Islam (memohon murtad). Jadi, hakikatnya di sini adalah “permohonan untuk mengisytiharkan agama Siti Fatimah (Buddha)” adalah permohonan untuk mensahkan bahawa Siti Fatimah telah murtad. Jadi, ia sebenarnya tidak ada bezanya.

Persoalan Kedua: Ahmad Jailani menegaskan bahawa Siti Fatimah bukanlah seorang Islam walaupun dia telah mengucap syahadah. Ini kerana syahadah yang diucap itu hanyalah untuk memenuhi syarat bagi membolehkan dia berkahwin dengan seorang Muslim. Inilah pendapat dan hujah peguam yang mewakili si murtad ini. Dengan hujah ini jugalah beliau berani menyatakan bahawa ‘ini bukan permohonan murtad’ kerana Siti Fatimah tidak pernah pun masuk Islam. Peguam ini juga menyatakan bahawa keIslaman seseorang itu perlu disertai niat dan semasa mengucapkan syahadah, jelas bahawa Siti Fatimah tidak memahami kalimah ini, jadi dia bukanlah seorang Islam. Jailani tidak menolak kemungkinan yang Siti Fatimah berbohong bahawa dia tidak memahami kalimah syahadah yang dia ucapkan. Yang peliknya, Jailani dalam masa yang sama, menyatakan bahawa Siti Fatimah faham bahawa ‘kesan’ dari syahdatain adalah dia akan menjadi seorang Islam. Jadi, persoalan hukum syarak yang perlu diselesaikan di sini adalah, apakah seseorang itu telah beragama Islam setelah mengucap syahadatain?

Untuk menjawab persoalan dan kekeliruan ini marilah kita merujuk kepada dua pusaka agung yang ditinggalkan kepada kita iaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Terdapat beberapa riwayat yang jelas yang menerangkan kepada kita tentang ‘status keIslaman’ seseorang, setelah dia mengucap syahadah. Ibnu Katsir di dalam menafsirkan Surah al-Nisa’ (4) ayat 92-94 menjelaskan dengan panjang lebar tentang asbabunuzul dan makna ayat-ayat tersebut. Menurut Imam Ibn Katsir, dari Abdul Rahman bin Zaid bin Aslam, ayat 92-93 dari surat al-Nisa ini diturunkan mengenai Abu Darda’, salah seorang sahabat nabi yang telah membunuh seorang lelaki kafir yang mengucap syahadah di saat Abu Darda’ mengangkat pedang (untuk membunuhnya). Abu Darda’ tidak menghiraukan syahadah lelaki itu lalu dibunuhnya juga. Dan apabila dia menceritakan kepada Rasulullah akan apa yang telah berlaku (dengan tambahan keterangan) bahawa lelaki itu mengucap sekadar untuk menghindari dirinya dari dibunuh, lalu Rasulullah bersabda “Hal syaqaqta ala qalbihi?” (“apakah kamu telah membedah hatinya?”) [Tafsir Ibnu Katsir].

Dari Abdullah bin Umar bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengutus Khalid Al-Walid kepada suku Bani Khuzaimah mengajak mereka masuk Islam. Mereka tidak menyatakan dengan tegas “aslamna” (“kami telah masuk Islam”) tetapi hanya menyatakan “saba’na saba’na” (“kami telah bertukar agama”). Oleh Khalid Al-Walid, dibunuhnya suku tersebut. Apabila sampai berita pembunuhan itu kepada Rasulullah, baginda bersabda seraya mengangkat kedua tangannya, “Allahumma inni abra’a ilaika mimma sana’a Khalid” (“Ya Allah aku berlepas diri kepada Engkau darip apa yang dilakukan oleh Khalid”). Kemudian Rasulullah mengutus Ali bin Abu Talib untuk membayar diyat kepada keluarga yang dibunuh oleh Khalid itu [HR Bukhari]. Imam Ibnu Katsir juga mengutip Riwayat Ahmad, Bukhari dan Bazzar, tentang Miqdad bin Aswad yang diutus dalam sebuah sariyah (peperangan yang tidak diikuti Rasul), lalu beliau membunuh seorang penggembala kambing yang mengucapkan syahadah. Setelah dipanggil ke hadapan Rasulullah, baginda bersabda, “Wahai Miqdad, apakah engkau membunuh seseorang yang mengucapkan syahadah, apakah jawapan engkau besok tentang La ilaha illallah itu?” [sila baca riwayat penuh dalam Tafsir Ibn Kathir 4:94].

Demikianlah beberapa riwayat yang sahih tentang status seorang yang mengucapkan syahadah yang mana mereka sesungguhnya dikira telah masuk Islam, walau untuk tujuan apa sekalipun syahadah tersebut diucapkan, sama ada untuk menyelamatkan diri dari dibunuh dalam medan perang atau untuk mengelakkan harta dari menjadi ghanimah (rampasan perang). Jadi faktor ‘niat’ bukanlah menjadi syarat sah atau tidak keIslaman seseorang itu, walaupun faktor niat memang boleh mensahkan ibadah seseorang, namun berdasarkan riwayat di atas, ia tidak terpakai di dalam kes ‘masuk Islam’. Satu perkara yang pasti yang tidak diperselisihkan di sini adalah, Siti Fatimah sememangnya telah mengucap dua kalimah syahadah, beliau sendiri mengakuinya, juga terdapat saksi dan terdapat bukti bertulis (Sijil Memeluk Islam). Siti Fatimah memang mengakui bahawa dia telah memeluk Islam untuk berkahwin. Di dalam pernyataan tuntutannya ke mahkamah (yang biasanya disediakan oleh peguam), ada menyebut dengan jelas bahawa “sepanjang memeluk Islam, beliau tidak pernah mengamalkan ajaran Islam...” yang bermaksud, beliau (dan peguam beliau) mengakui bahawa beliau (Siti Fatimah) telah ‘memeluk Islam’. Agak pelik kenapa keIslaman Siti Fatimah dipertikaikan sendiri oleh peguam yang menyediakan pernyataan tuntutan tersebut! Apa yang jelas dari segi hukum syarak adalah bahawa ternyata Tan Ean Huang telah memeluk Islam dan adalah seorang Islam (sebelum murtad). Tidak kira apa niat atau tujuan dia memeluk Islam, yang pastinya apabila dia telah mengucap syahadatain, maka dia telah menjadi seorang Muslim. Inilah ketentuan syarak ke atas orang yang mengucap kalimah suci ini.

Persoalan Ketiga: Antara isu yang menjadi tulang belakang dalam kes ini adalah ‘perbuatan’ Siti Fatimah setelah dia mengucap syahadah. Menurut wawancara dengan Ahmad Jailani, Hakim bersetuju dengan hujah beliau bahawa semasa mengucap dua kalimah syahadah itu, plaintif (Siti Fatimah) sebenarnya tidak masuk Islam. Ini kerana berdasarkan zahir fakta tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan dia mengamalkan (ajaran) Islam. Setelah mengucap syahadah, Siti Fatimah tidak pernah mengamalkan ajaran Islam, malah langsung tidak berubah dan tetap menyembah berhala, memakan babi dan meminum arak. Satu kemungkinan yang wujud di sini adalah Tan Ean Huang ini berbohong kepada peguamnya dan juga kepada mahkamah tentang ‘perbuatannya’. Untuk menang kes, kita tahu bahawa orang Islam pun sanggup berbohong, apatah lagi orang kafir/murtad. Namun, jika dia tidak berbohong sekalipun, isu yang kita perlu putuskan di sini ialah berhubung soal ‘akidahnya’ yang baru memeluk Islam. ‘Tidak mengamalkan ajaran Islam’ tidaklah menjadikan seseorang itu kafir, seperti memakan babi atau meminum arak. Begitu juga jika seseorang itu berzina, mencium perempuan ajnabi, membunuh orang tanpa hak, mencuri, menerapkan hukum sekular dan sebagainya tidak menjadikan seseorang itu kafir. Akidahnya tidak gugur dengan hanya melakukan perbuatan tersebut. Ia hanya menjadikan seseorang itu berdosa kerana telah melakukan keharaman. Berbeza halnya dengan seorang Muslim yang ‘meyakini’ (dari segi akidah) bahawa berzina adalah halal, minum arak adalah halal atau menerapkan hukum kufur/sekular adalah halal. Di sini akidahnya boleh gugur.

Adapun perbuatan Siti Fatimah yang dikatakan balik ke rumah dan menyembah berhala, maka perbuatan ini sahajalah yang perlu dibawa untuk membuktikan yang dia telah kembali ke agama asal (murtad). Apabila dia telah mengakui dengan jelas bahawa dia telah menyembah berhala Buddha, maka tidak diragukan lagi bahawa dia sekarang telah murtad (keluar dari Islam). Ini kerana dia merupakan seorang yang telah pun bersyahadah sebelumnya. Jadi, dengan kata lain, permohonan sebenarnya adalah agar mahkamah ‘mengesahkan’ bahawa beliau telah keluar dari Islam. Pokok persoalan di sini bukan lagi untuk ‘menentukan status agama’ kerana berdasarkan keterangannya sendiri, kita sudah tahu bahawa dia telah kembali kepada agama Buddha (telah murtad). Jadi, tugas mahkamah dalam kes ini sebenarnya bukanlah untuk ‘mengesahkan’ atau memberi pengiktirafan bahawa dia bukan lagi seorang Islam. Di dalam Islam, fungsi mahkamah di dalam kes ini adalah untuk mengarahkan agar si murtad bertaubat dan jika enggan (setelah diberi tempoh waktu tertentu), maka tugas hakim sekarang adalah menjatuhkan hukum Allah ke atasnya berdasarkan sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam “Barangsiapa yang menukar agamanya, hendaklah kamu bunuh akan dia” [Hadis Riwayat Jemaah ahli hadis, kecuali Muslim]. [Untuk kefahaman lanjut tentang hukum murtad dan tugas mahkamah dalam Islam, sila rujuk SN078: 250,000 Murtad – Masihkah Kita Ingin Berdiam Diri dan juga SN125: Sijil Mati Untuk Lina Joy].

Keputusan mahkamah yang hanya ‘mensahkan’ agama si murtad, memerintahkan MAIPP agar membatalkan Sijil Memeluk Islam dan meminta si murtad pergi sendiri memadamkan perkataan Islam dalam kad pengenalannya adalah bertentangan langsung dengan hadis Rasulullah. Ini hanyalah keputusan berdasarkan hukum rekaan manusia di Pulau Pinang yang diputuskan menurut Enakmen Aturcara Mal 2004, bukannya keputusan yang disandarkan kepada ketetapan dari Allah dan Rasul di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi, bagaimana mungkin ada orang Islam yang boleh memuji dan menilainya sebagai ‘tepat’? Apakah parameter yang digunakan untuk membuat penilaian sebegini, akal atau wahyu? Yang turut menyedihkan kita ialah ‘perangai’ pihak MAIPP hanya datang sekali sahaja ke mahkamah sepanjang perbicaraan. MAIPP ditegur keras oleh mahkamah kerana tidak mengambil berat dalam membimbing saudara-saudara baru kepada Islam. Teguran oleh hakim Othman Ibrahim itu ada asasnya dan inilah yang kita mahukan, kerana teguran itu didasarkan kepada Islam. MAIPP sepatutnya menjalankan amanah yang diserahkan kepada mereka dengan baik, namun yang berlaku adalah sebaliknya. Di samping ‘memberi teguran’ yang baik, kita juga mengharapkan agar hakim syari’e di seluruh Malaysia dapat menerima teguran yang baik. Hakim syari’e perlu sedar bahawa mereka memutuskan hukum bukan berdasarkan apa yang Allah turunkan dan mereka perlu insaf bahawa mereka memutuskan hukum bukan berdasarkan apa yang Rasulullah perintahkan.

Hakim syari’e perlu sedar bahawa adalah haram bagi mereka untuk berhukum dengan hukum yang dibuat oleh manusia. Mereka wajib menjadi hakim yang memutuskan sebagaimana Rasulullah memutuskan (berdasarkan hukum wahyu). Mereka perlu bertaubat dari dosa-dosa mereka dan mereka perlu bangkit untuk merubah hukum kufur sekular yang ada pada hari ini dan menggantikannya dengan hukum Allah. Kita tidak mahu lagi hidup di dalam sistem sekular yang hanya menjadikan seseorang itu ‘Muslim’ hanya berdasarkan sekeping sijil, kemudian jika dia ingin keluar dari Islam, maka boleh dibenarkan dan sijil tersebut dibatalkan. Ramai di kalangan umat Islam yang mendakwa bahawa kita tidak ada pilihan lain kecuali mengikut sahaja undang-undang yang sedia ada. Kita manfaatkan undang-undang kufur yang sedia ada untuk kebaikan Islam, hujah mereka. Hujah ini bukan sahaja keliru, malah bercanggah dengan Islam. Yang benarnya ialah kita dilarang (haram) untuk berhukum dengan hukum kufur dan kita wajib berjuang untuk menggantikannya dengan hukum Islam. Kita tidak dituntut untuk memanfaatkan sistem kufur, tetapi kita dituntut untuk menukarnya kepada sistem Islam.

Suatu yang haram itu haram untuk dimanfaatkan dan wajib diganti dengan yang halal, bahkan ‘jalan’ yang menuju kepada yang haram pun adalah haram (al-wasilatul ilal haram, haram). Kaedah syarak juga menyebut bahawa ridha bil kufr, al-kufr (redha dengan kekufuran itu adalah satu kekufuran). Peguam syari’e yang mengendalikan kes ini nampaknya gagal memahami bahawa murtad itu adalah satu kesalahan di bawah hudud, sepertimana mencuri atau berzina. Jika beliau faham dan meletakkan bahawa murtad adalah satu kesalahan/keharaman, maka tentunya beliau tidak akan membuat permohonan yang menjadi wasilah (jalan) menuju keharaman. Di dalam Islam ‘kesalahan’ itu adalah sesuatu yang wajib dihukum, bukan dipohon. Contohnya, jika seseorang mengaku telah berzina di hadapan peguam, apakah peguam itu dibolehkan mewakili penzina tersebut di mahkamah untuk mendapatkan pengisytiharan/pengesahan mahkamah bahawa dia telah berzina atau dia adalah seorang penzina? Begitu juga jika seseorang itu telah mengaku mencuri, apakah peguam dibolehkan mewakili pencuri tadi untuk mendapatkan pengisytiharan/pengesahan mahkamah bahawa, ya benar dia telah mencuri dan dia sekarang adalah seorang pencuri? Apakah hakim itu pula, setelah mendengar pengakuan salah dan bukti-bukti, dibolehkan mengeluarkan ‘pengesahan’ bahawa, ya benar sifulan bin sifulan adalah seorang pencuri, penzina atau pemurtad?

Inilah yang gagal difahami oleh peguam dan juga hakim yang mengendalikan kes ini, bahawa, baik berzina atau mencuri, apatah lagi murtad, semua itu adalah ‘kesalahan’ yang wajib dihukum di mahkamah, bukannya untuk ‘dipohon’ atau ‘disahkan’. Fungsi mahkamah bukannya untuk ‘mensahkan’ kesalahan, tetapi untuk ‘menghukum’ kesalahan. Cara untuk memartabatkan Islam bukannya dengan ‘berjaya’ mengheret orang kafir ke Mahkamah Syariah (sebagaimana yang dibanggakan peguam dalam kes ini), tetapi adalah dengan cara berhukum dengan hukum Islam. Kita perlu sedar di sini bahawa mahkamah syariah yang ada bukanlah mahkamah Islam dan bukanlah mahkamah yang berhukum dengan hukum Islam. Kewujudan dan bidang kuasanya itu sendiri adalah ditentukan sepenuhnya oleh hukum sekular buatan manusia. Berjaya membawa seorang kafir ke mahkamah syariah yang memutuskan hukum bukan dengan Kitabullah dan Sunnah RasulNya bukanlah satu kejayaan di dalam memartabatkan Islam, malah ia menjadi jalan menuju keharaman.

Khatimah

Wahai kaum Muslimin! Walau apa pun alasan yang diberikan oleh hakim di dalam penghakimannya atau oleh peguam di dalam mempertahankan tindakannya mewakili si murtad Tan Ean Huang ini, yang pasti, perbuatan mereka telah berjaya menggembirakan orang-orang kafir, baik di dalam negeri mahupun di luar negara. Apa yang dilakukan Ahmad Jailani tentunya akan dapat menarik ramai lagi golongan murtad di Malaysia untuk menggunakan ‘khidmat’ beliau yang telah ‘berjaya’ memberi kemenangan selesa kepada si murtad. Dan golongan kafir di seluruh dunia, khususnya kuffar Barat pun akan ‘tabik’ kepada beliau kerana ‘berjaya’ membuktikan bahawa Islam menjamin kebebasan beragama, khususnya bagi sesiapa yang ingin keluar dari Islam. Niat baik beliau di dalam mewakili golongan terlaknat ini tentunya akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh golongan kuffar untuk ‘menjulang’ Islam sebagai agama yang membawa kebebasan, sebagaimana agama-agama lainnya. Mungkin selepas ini akan bermunculanlah kes Siti Fatimah Tan II, Siti Fatimah Tan III dan seterusnya. Agama Islam akan terus terhina kerana sikap segelintir umat Islam itu sendiri yang sentiasa ‘berkompromi’ dengan hukum kufur dan mengambil sikap ‘memperjuangkan’ Islam di dalam bingkai kekufuran serta mengambil pendekatan matlamat menghalalkan cara. Disebabkan kekeliruan dalam berfikir dan ditambah dengan tugas/hidup seharian yang bergelumang dengan sistem kufur, menyebabkan hakim yang ikhlas dan peguam yang baik pun tidak dapat menghakimi perkara-perkara berasaskan hukum-hakam Islam. Sepatutnya peguam syari’e, hakim syari’e dan umat Islam keseluruhannya tampil ke hadapan untuk menyatakan pendirian menolak undang-undang selain undang-undang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan masing-masing bekerja sama berjuang untuk mencampakkan sistem kufur-sekular yang ada dan menggantikannya dengan sistem Khilafah. Inilah yang sewajibnya dilakukan oleh kaum Muslimin, bukannya terus memperhambakan diri berkhidmat dan tunduk patuh serta pasrah kepada hukum Jahiliyyah yang ada.